Kembali ke halaman utama

Renungan

Meskipun Singkat

Ayat : 2 Tawarikh 27:1-9

David Brainerd adalah misionaris pelopor pekabaran Injil bagi suku Indian Amerika. Ketika usianya baru menginjak 29 tahun, ia menderita sakit parah. Menjelang saat-saat terakhir hidupnya, ia berkata, "Mengapa kereta-Nya tidak datang-datang juga? Saya sudah lama menantikan waktu untuk memuji dan memuliakan Tuhan bersama para malaikat di surga." Usianya memang terhitung singkat, namun bagi Brainerd hal itu tidak menjadi masalah sebab dalam sepanjang hidupnya ia telah melakukan yang terbaik bagi Sang Raja. Yotam berumur 25 tahun saat ia menjadi raja menggantikan ayahnya, Uzia. Alkitab mencatat bahwa sebagai raja di Yerusalem ia tidak bersenang-senang saja menikmati kekuasaannya. Sebaliknya, ia bekerja giat untuk Tuhan. Ia mendirikan banyak bangunan, mulai dari gerbang di rumah Tuhan, kota-kota di pegunungan, benteng-benteng sampai banyak menara. Sebagai penguasa, ia pun tidak memilih berdiam diri saja di istana, melainkan ikut berperang melawan bani Amon. Hidupnya memang terbilang singkat-hanya 41 tahun-tetapi selama itu ia berbuah banyak bagi Allah. Kehadirannya di dunia ini benar-benar memberi dampak bagi pemerintahannya. Dari pengalaman David Brainerd dan raja Yotam, kita belajar bahwa yang penting bukan berapa lama kita hidup, melainkan bagaimana kita hidup. Apakah ada kualitasnya? Apakah ada manfaatnya bagi sesama? Apakah Allah dimuliakan melalui kita? Mari kita, berapa pun usia kita, memasuki tahun baru ini dengan semangat untuk hidup bagi kemuliaan-Nya! Jadikan hidup Anda di tahun 2018 bermakna bagi orang lain dan berkualitas di hadapan Tuhan.

Penulis : IM